Tulisan ini semoga terbaca oleh pegawai dan pejabat Departemen Perhubungan, dinas perhubungan, atau siapapun yang mempunyai tanggung jawab mengatur lalulintas di negeri ini, khusunya jakarta dan sekitarnya.
Mungkin ini adalah kejengkelan saya terhadap manajemen transportasi di megapolitan Jabodetabek. Rumah saya di Depok, jarak ke kantor saya di daerah Gatot Subroto adalah 21 Km. Namun jarak yang relatif dekat ini (he..he..dibanding yang 30km keatas kan relatif deket...) harus ditempuh dalam waktu yang lama dan bervariasi, tergantung kondisi lalu lintas. Bisa 45 menit, bisa 1 jam, bisa 1,5 jam, tapi bisa juga 3 jam. Semua tergantung kondisi lalu lintas, melintas jam berapa, hujan apa enggak, ada kejadian aneh apa enggak (mobil mogok, etc, %*#&*).
Dari berbagai mode transportasi, saya sudah mencoba 3 mode transportasi: Sepeda Motor, Mobil, dan terakhir Kereta Rel Listrik (KRL). Semua ada plus minusnya...
Moda Sepeda Motor
Kekantor rata-rata dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam, berangkat jam 06.30 sampai kantor jam 07.50. dengan jalur Depok, Jagakarsa, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Pancoran, Kuningan dan Gatot Subroto. Rute paling parah adalah sehabis underpass pasar minggu sampai pancoran. Walaupun anda naik motor, niscaya anda gak bisa srobot sana srobot sini, "tanya kenapa?" karena saking banyaknya volume kendaraan yang gak sebanding dengan lebar ruas jalan.
Plusnya adalah plus asap mobil, motor, solar dan debu, serta pegel2 di kaki dan badan. Kalau Hujan gak Kepanasan, kalau panas gak kehujanan. Minusnya adalah minus bensin alias mode irit. Beli bensin Rp. 15.000 bisa untuk bolak-balik 3 hari, murah tho. mungkin ini salah satu alasan meledaknya jumlah motor di Jakarta.
Moda Mobil
Moda ini digunakan kalau terpaksa, misal cuaca pas berangkat lagi hujan deras, ada keperluan misal meeting diluar, mau main futsal habis jam kantor, or ada acara lain. Harus berangkat pagi-pagi, jam 05.30, dengan rute yang sama akan sampai kantor jam 06.30, cepetkan cuma 1 jam...tapi pagi-pagi buta he..he... kalau berangkat jam 06.00 atau jam 06.30 sampai kantor bisa jam 09.00...what a wonderful Jakarta. Plusnya adalah kaki kiri pegel-pegel main kopling (mode manual belum matic....laki-laki sejati, oper gigi).
Moda Kereta Rel ListrikSebenernya ini adalah moda yang paling feasible, cepat, awalnya nyaman, relatif murah. Untuk tiket KRL Express Depok-Dukuh Atas/Sudirman seharga Rp. 9.000. Cepat: karena dari Depok-Dukuh Atas Sudirman cuman dibutuhkan waktu paling lama 30 menit (dengan catatan everything is OK). Maksudnya OKe adalah tidak ada kereta mogok, tidak terjadi kerusakan teknis kereta, tidak ada kereta yang anjlok, tidak ada...tidak ada...dst.
Berangkat jam 06.40 sampai Dukuh atas jam 07.10. Kereta trip ini awalnya tidak penuh-penuh banget, tapi sekarang (saat ditulis akhir maret 2010), hm..hm..kereta ini gak nyaman lagi. terlalu banyak orang yang mau naik kereta ini. Sementara gerbong malah cuman 6 gerbong dari yang dulunya 8 gerbong. Akibatnya penuh, berdesak-desakkan, O2 menjadi rebutan...(masih dingin sih). So, dari Depok ke Dukuh Atas pasti berdiri, yang pake pada bawa kursi sendiri juga gak bisa pake...tereta ini terlalu penuh. Dari dukuh atas disambung pake Metromini 604 eh... 640. Posisi paling enak adalah duduk di kursi panjang paling belakang. lumayan buat ngobatin desak-desak 30 menit dikereta. fiuh...h...h.h..Tapi moda paling nyama masih tetap KRL compare the 2 others. Semoga KRL menjadi lebih baik, lebih mengerti kemauan konsumen, lebih tepat waktu, lebih..lebih yang lain...tut..tut..jeg-jeg..jeg-jeg....
Google memang mesin pencari yang hebat. Program ini melakukan kustomisasi pelanggannya. Mulai dari mencari alamat situs, gambar, buku, terjemahan, dll. Untuk orang yang suka membaca, mencari artikel ilmiah, referensi, dari skripsi, thesis, disertasi, buku-buku dari berbagai bidang dapat menggunakan google scholar. Tulis aja http://scholar.google.com atau http://scholar.google.co.id.
Seperti pada pencarian google biasa, langkahnya: 1. masuk ke http://scholar.google.com atau http://scholar.google.co.id. 2. Setelah masuk, tulis nama pengarang atau tokoh yang akan kita cari. Misal Peter drucker. Didapat hasil 45.900 (dilakukan pada 29 Maret 2010 jam 11.19 WIB).
Kontribusi SDM melalui CBHRM untuk menjadi strategic partner
Berdasarkan penelitian, hanya 10% dari strategi yang dirancang dengan benar akan dieksekusi dengan baik dan berhasil mengangkat kinerja perusahaan. Apalagi kalau strateginya dirancang dengan salah,tambah parahlah perusahaan itu. If you fail to plan, than you plan to fail. Eksekusi strategi menjadi sebuah masalah pelik yang sedang mengemuka. Banyak perusahaan berusaha mengatasi hal ini. Kaplan dan Norton (Pengarang metode Balanced Scorecard) menganjurkan perusahaan menjalankan 5 prinsip dan dikenal dengan Strategy Performance Focused Organization (SPFO). Secara sederhana 5 prinsip tersebut diterjemahkan dengan adanya:
·Kepemimpinan yang berwibawa (tahu kemana organisasi dibawa dan mampu mempengaruhi orang2 didalam organisasi untuk mencapai tujuan/sasaran organisasi);
·Penerjemahan strategy menjadi hal-hal operasional, yakni: misi, visi, penetapan peta strategi, sasaran2, target, ukuran kinerja
·Membuat kesesuaian antara tujuan besar perusahaan dengan unit-unit kerja, proses bisnis, vertical alignment dan horizontal alignment.
·Memotivasi individu-individu didalam organisasi untuk mencapai strategi perusahaan. Hal ini dilakukan dengan melakukan komunikasi dan training terhadap karyawan disemua level, memberikan reward disesuaikan dengan pencapaian sasaran organisasi.
·Membuat strategy sebagai sebuah proses yang berkelanjutan. Dilakukan dengan pertemuan rutin membahas pencapaian sasaran perusahaan (bulanan, triwulanan dan tahunan), melakukan tindakan perbaikan untuk mencapai sasaran organisasi.
Dari ke-lima prinsip diatas, pada bagian mana SDM dapat berkontribusi? Bagaimana SDM dapat berfungsi menjadi sebuah unit yang tidak hanya berfungsi administratif, mengurusi gaji, jadwal cuti, pembayaran uang makan, masalah absen, kenaikan golongan, grade? Namun menjadi sebuah unit yang berfungsi sebagai strategic partner/mitra strategis mencapai tujuan-tujuan strategis perusahaan.
Salah satu aspek yang dapat digunakan adalah dengan menerapkan strategic job readiness. Konsep ini dapat diartikan sebagai kesiapan dari jabatan-jabatan kunci untuk melaksanakan strategi perusahaan. Perusahaan yang mempunyai nilai strategic job readiness rendah mempunyai kemungkinan besar akan gagal dalam mengeksekusi strategi. Untuk dapat menentukan berapa nilai strategic job readiness, kita memerlukan perusahaan yang telah menerapkan Balanced scorecard dan pengelolaan SDM berbasis kompetensi/CBHRM. Disinilah peran CBHRM yang akan memudahkan kita menerapkan berbagai strategi penting. Intinya adalah membuat ukuran yang jelas tentang perilaku yang dibutuhkan.
Seperti diketahui, BSC memetakan sasaran2 penting yang harus dicapai perusahaan. Untuk mencapai sasaran-sasaran penting ini perusahaan memerlukan proses-proses yang dapat mendukung tercapainya sasaran-sasaran tadi. Sebagai contoh perusahaan diumpamakan mempunyai sasaran: meningkatkan kualitas data customer. Berkualitas artinya data customer valid, sesuai dengan kenyataan, baik data upah, data demografi tenaga kerja (nama ibu, tanggal lahir, dan keterangan lainnya). Gambar berikut memberikan ilustrasi penghitungan nilai strategic job readiness. Sekali lagi, ini hanya sebuah ilustrasi dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Gambar disamping dimulai dari proses strategis yang dibutuhkan Jamsostek, yakni meningkatkan kualitas data kepesertaan.
Job title yang berperan penting untuk mendapatkan kualitas data kepesertaan adalah Account Executive.
Hal itu dapat dilakukan oleh account executive-account executive yang mempunyai kompetensi. Kompeten dalam hal (hal ini terlihat dari kamus kompetensi-job profile):
·Pengetahuan: mempunyai customer knowledge dan marketing communication
·Ketrampilan: mempunyai relationship management skills dan database management skills
·Sikap: Customer Partnership dan Achievement Orientation
Berdasarkan analisa kebutuhan, ternyata dibutuhkan 450 orang Account executive yang mempunyai profile kompetensi diatas. Hasil dari assesmen terhadap 400 orang AE ternyata hanya terdapat 150 orang yang mempunyai kemampuan kompetensi diatas. Sehingga dapat dikatakan bahwa strategic job readiness untuk mengeksekusi strategi peningkatan kualitas data kepesertaan hanya 33,34%.Jika saja factor kesuksesan strategi “peningkatan kualitas data kepesertaan” itu 100% diasumsikan berasal dari factor SDM, maka dapat diprediksikan bahwa strategi ini hanya akan berhasil dieksekusi sebesar 33,34% saja.
Dengan keadaan diatas, berarti perusahaan harus melakukan training/pengembangan karyawan terhadap 300 orang AEO untuk dapat melakukan perbaikan kualitas data kepesertaan.
Dari ilustrasi diatas, Nampak bahwa perusahaan dapat menyelaraskan dua system yakni Balanced Scorecard (BSC) dan Competency Based Human Resource Management (CBHRM). BSC berkaitan dengan pilihan-pilihan strategi, sementara CBHRM mendorong dari sisi eksekusi strategi dalam bidang SDM, mulai dari identifikasi kebutuhan pengembangan karyawan, posisi kesiapan SDM untuk mengeksekusi sebuah strategi.
Referensi:
-Kaplan, Robert S, and David P. Norton, Strategy Maps: Converting Intangible Assets Into Tangible Outcomes, Boston-Harvard Business School Publishing, 2004.
-Model dan Kamus Kompetensi PT. Jamsostek (Persero), 2008.
Pengguna facebook pasti udah sering banget mendapat pertanyaan seperti judul diatas. Kalau confirm ada manfaatnya gak ya? kalau gak gabung apakah saya akan ketinggalan informasi? Kita pasti mencari sweet spot-yakni komunitas yang memberikan manfaat optimum.
Setidaknya ada 3 kriteria yang dapat kita gunakan untuk menentukan gabung tidaknya kita pada sebuah komunitas: relevance; active level dan number of community network.
Relevance terkait dengan relevansi atau kesamaan interest/kepentingan atau values/nilai. Orang yang mempunyai kepentingan atau nilai-nilai yang sama cenderung untuk memasuki sebuah komunitas yang sama. Coba ketik bike to work (dalam facebook), maka akan muncul 16 komunitas bike to work (dilakukan pada 12 januari 2010). Masing-masing mempunyai anggota yang bervariasi jumlahnya. Komunitas ini mempunyai values yang sama yakni kesehatan lewat bersepeda, mengurangi emisi karbon, juga ada yang karena alasan ekonomis (pasti sedikit sih..). Orang yang tidak menyukai sepeda, emisi karbon cenderung enggan untuk bergabung dengan komunitas bike to work.
Active level terkait dengan seberapa besar tingkat keaktifan sebuah komunitas. Apakah sebuah komunitas hanya berisi list anggota tanpa aktivitas apapun. Tanpa ada diskusi, sharing pengalaman tentang interest yang sama, dst. Kalau cuman sekedar daftar nama, ngapain kita bergabung. Saya pernah mengikuti Honda Jazz Cyber Club, member komunitas ini cukup aktif, tiap hari ada yang memposting sesuatu, tanya bengkel honda, cara mengubah setting mobil, tempat ngecat mobil, etc.
Number of community Network terkait dengan jumlah jaringan antar komunitas yang dapat dibangun atau potensial dibangun. Kita tentu pingin menambah jaringan untuk menambah manfaat dan pertemanan.
Kalau gak ada yang sesuai dengan 3 kriteria-kriteria tersebut diatas, trus mau ikut komunitas apa donks??? Mungkin saatnya anda menjadi administrator dari sebuah komunitas. Bukankah Tuhan memerintahkan kita menjadi orang yang bermanfaat buah orang lain. So, it's time and your turn.
Selamat menjadi penggerak komunitas, esplore your ability...
Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman lama yang menelpon tentang hidupnya. Perbincangan mengalir tentang mengapa dalam usianya sekarang belum dikarunia pasangan, ketika lahir kenapa dilahirkan dengan handycap (baca: kekurangsempurnaan fisik), apakah tuhan tidak sayang?
Topik takdir selalu menjadikan hangat kalau dijadikan sebagai topik diskusi. "Ke-hangat-an" ini muncul karena selalu saja ada beberapa kelompok yang berseberangan pendapatnya tentang takdir. Ada yang berpendapat bahwa takdir seseorang sudah ditentukan oleh Allah swt, manusia tinggal menjalaninya saja. Hal ini merujuk pada beberapa firman Allah, QS. An'Am ayat 59:
59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).(QS.6:59)
Sementara kelompok yang lain berpendapat bahwa takdir adalah sesuatu yang masih bisa berubah, tergantung kepada usaha kita. Hal ini juga dengan sandaran Al Quran Ar Ra'd ayat 11:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Jadi seharusnya bagaimana nih kita menyimpulkan dua ayat al quran yang "kelihatannya" bertentangan ini? Iktiar untuk menjawab pertanyaan ini saya temukan dalam bukunya Agus Mustofa "Mengubah Takdir-seri 7 diskusi tasawuf modern". Walaupun kebenaran 100% ada di Allah namun kita wajib mencarinya.
Inti pemikiran dari Agus Mustofa adalah Takdir dipengaruhi oleh usaha dan kehendak Allah. Manusia diperintahkan untuk berusaha seoptimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Sedangkan Allah telah menciptakan hukum-hukum-Nya yang kita sebut sunatullah. Hasilnya yang menentukan adalah Allah, tergantung kepada usaha kita. Disamping itu ada juga faktor lain yang berpengaruh (hal ini tentu juga di atur oleh Allah). Lihat tulisan saya dalam review buku outlier (kaitannya jelas sekali).
Perumpamaannya adalah seperti sebuah kalkulator, hasil yang nampak di layar kalkulator tergantung kepada tombol apa yang kita pencet, penjumlahan, perkalian atau yang lain. Akan tetapi ketentuan-ketentuan yang mengaturnya sudah di program oleh pembuat kalkulator. Dalam hal ini adalah yang maha pencipta ALLAH Swt.
Saya cenderung setuju sama pemikiran Agus Mustofa ini, tentunya manusia diciptakan bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Kita punya pilihan, diberikan kebebasan sehingga kita diberikan potensi yang sedemikian besar (Surat At tiin: Sesungguhnya kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk). Konsekuensinya kita mempunyai tanggungjawab atas semua perbuatan yang kita lakukan.
Dua kata ini sering di campur adukkan. Padahal "dua binatang" ini adalah dua hal yang sangat berbeda. Orang sering menyamakan dua kata ini sebagai sebuah perilaku untuk melakukan konsumsi secara berlebihan. Kata tepat untuk menggambarkan kondisi ini adalah kata konsumtif. Sebagai contoh adalah diskon gede-gedean akan meningkatkan perilaku konsumtif dari orang-orang. Hal ini menurut saya juga sebenernya lebih terkait dengan hati dan pikiran kita. Kalau kita orangnya sederhana dan tidak neko-neko kelihatannya agak jauh dari perilaku konsumtif.
Didalam istilah ekonomi makro terdapat istilah marginal propencity to consume (MPC). MPC ini menjelaskan kecenderungan kita untuk melakukan konsumsi atas pendapatan yang kita peroleh. Nilainya berkisar dari 0 sampai dengan 1. 0 berarti semua pendapatan kita tabung dan tidak ada yang kita gunakan untuk melakukan konsumsi. Jelas bahwa konsumtif lebih dekat kepada "to consume".
Sementara consumerisme lebih dekat kepada consumer, yakni konsumen. Konsep konsumerisme diartikan sebagai gerakan untuk melindungi dan menginformasikan kepada konsumen dengan meminta kepada produsen untuk jujur dalam kemasan, iklan, jaminan produk dan standar keamanan produk. Implikasi dari gerakan ini adalah adanya LSM yang peduli dengan kepentingan konsumen, di Indonesia hal ini dilakukan oleh YLKI (yayasan lembaga konsumen Indonesia). Kantornya kalau belum pindah ada di Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Kalau dari Jalan Pasar Minggu, lurus dari Tugu Pancoran kearah pasar minggu sampai di pertigaan Duren Tiga kekanan, sekitar 400 meter ada perempatan trus kekanan, nanti di kiri jalan, ada plang YLKI.
Pemerintah juga telah mengatur tentang perlindungan tentang konsumen ini melalui UU No. 8 tahun 1999. Didalam undang-undang ini diatur tentang hak dan kewajiban konsumen. Secara sekilah konsumen mempunyai hak untuk:
Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
hak unduk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
Selain itu konsumen juga mempunyai kewajiban untuk:
membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut
Secara lebih lengkap, dapat melihat dalam UU N0. 8 tahun 1999. Ikuti link berikut deh kalau mau lihat lengkapnya http://www.esdm.go.id/prokum/uu/1999/uu-8-1999.pdf
Buku ini ditulis oleh Malcolm Gladwell, seorang penulis buku best seller yang lain yakni The Tipping Point dan Blink. Dalam buku outliers ini Malcolm Gladwell menulis tentang rahasia dibalik sukses para outliers.
Out-li-er: 1. sesuatu yang lokasinya jauh atau memiliki kelas yang berbeda dari bagian utama atau bagian lainnya. 2. Sebuah pengamatan statistik yang memiliki nilai berbeda dari contoh lainnya.
Dari judulnya ini dapat digambarkan bahwa isi buku ini mengeksplorasi tentang hal-hal yang berada diluar kebiasaan, atau diluar nilai-nilai normal. Mengapa seseorang atau sebuah kelompok dapat mencapai prestasi yang luar biasa disebuah bidang? Hal-hal apa saja yang mendorong kesuksesannya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mencoba dijawab oleh buku ini.
Kebanyakan dari kita (termasuk pada awalnya saya) mempunyai pandangan bahwa seseorang yang dikarunia tingkat intelegensia yang tinggi akan sukses dalam kehidupannya. Ternyata tidak. Intelegensia memang penting namun ada banyak faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan seseorang. Bill Gates memang mempunyai otak yang brillian, Einstein juga (IQ 150), Habibie juga. Namun ada seorang yang bernama Chris Langan (IQ 195) ternyata hidupnya biasa-biasa saja, tidak menghasilkan sebuah karya yang monumental. Dia "hanya" menjadi seorang peternak biasa. Terdapat faktor lain berupa lingkungan yang kondusif, kerja keras, dan kesempatan serta sesuatu yang lebih besar lagi (tren industri).
Para raja IT ternyata dilahirkan pada kisaran tahun yang sama 1955-an. Bill Gates, Paul Allen, Steve Jobs dilahirkan pada kisaran tahun tersebut. Pada saat mereka beranjak dewasa terdapat kesempatan untuk mengeksplorasi komputer pribadi. Usia diatas dan dibawah mereka menjadi tidak pas untuk tumbuh menjadi raja komputer dunia. Bisa ketuaan atau terlalu muda. Mereka juga dikarunia kesempatan (sebuah kebetulan yang didisain oleh Tuhan) untuk melakukan praktek, kerja keras, latihan sehingga ketika dunia membutuhkan merekalah yang telah siap untuk menyambut tantangan. Malcolm Gladwell mengistilahkan dalam kaidah 10.000 jam.
Budaya juga mempengaruhi kesuksesan orang dalam bidang tertentu. Bagaimana bangsa asia yang mempunyai budaya bekerja keras mempunyai keunggulan dalam bidang matematika, sementara karena budaya penghormatan kepada atasan pilot-pilot korea mempunyai tingkat kecelakaan yang tinggi. Kerja keras menjadi salah satu kunci dari keberhasilan para outliers, namun lebih dari itu harus didukung sesuatu yang lain. Anak yang mempunyai intelegensia tinggi harus didukung oleh lingkungan "concerted cultivation".
Terkait dengan fakta-fakta yang diungkap dalam buku ini saya teringat dengan Bagaimana dengan Indonesia? Kita mempunyai banyak talenta-talenta unggul, banyak dari generasi muda kita menjuarai olimpiade matematika, fisika, etc. Namun apakah lingkungan kita mendukung untuk talenta-talenta ini menjadi outliers dunia?
Bagi yang masih penasaran tentang buku ini dapat mengunjungi situs Malcolm Gladwell di http://www.gladwell.com/outliers/index.html atau lebih bagus baca sendiri deh bukunya.