Friday, October 29, 2010

Pemerintah maunya apa?


Banjir yang meluluhlantakan tatanan ibu kota Jakarta terjadi pada tanggal 18 Oktober 2010. Dimulai dengan hujan deras mulai jam 15.00 s/d jam 18.00. Cukup membuat genangan air dimana-mana. Mode transportasi lumpuh, beberapa sungai meluap. Jalanan penuh dengan mobil, motor, dan orang-orang yang terjebak tidak bisa pulang. Moda transportasi kereta rel listrik juga lumpuh. Banyak teman sampai dirumah jam 23.00 malam, bahkan ada jam 2 dinihari baru sampai rumah.

Banyak omelan kepada penanggungjawab ibukota, siapa lagi kalau bukan bang kumis alias Mr. Fauzi bowo-Foke. Orang masih ingat pada waktu kampanye jargonnya adalah "serahkan pada ahlinya". Kemacetan, banjir, akan beres semua. Sayangnya ini menjadi semacam over promise under delivery. Tetap saja kemacetan makin lama makin parah, banjir juga demikian.

Kalau boleh menganalisa, permasalahan di ibukota karena banyaknya orang yang tinggal di Jakarta ini. "Gula Jakarta telah menyedot jutaan orang untuk datang ke Jakarta mencicipi manisnya gula". Coba kalau gula-gula ini lebih terdistribusi ke beberapa kota di Indonesia. Tentunya beban Jakarta akan sedikit terkurangi. Beberapa negara telah memisahkan antara pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Malaysia dengan Putrajaya dan Kuala Lumpur, Sydney dan Canberra di Australia (CMIIW), dan beberapa negara lain.

Permasalahan lain adalah tidak adanya visi pemerintah kita untuk memberikan fasilitas yang nyaman kepada warganya. Lihatlah proyek monorail yang mandeg, proyek busway yang kelar2, tidak adanya kebijakan yang jelas mengenai pengaturan lalulintas (misal pembatasan kendaraan berdasarkan plat nomer, tahun pembuatan, ataupun cara lain, yg penting ada pengaturan yang jelas). Berapa sih dana dibutuhkan untuk buat monorail, membuat MRT Jakarta dan kota sekitarnya? 10, 20, 50, atau 100 triliun rupiah? Ataukah pemerintah takut untuk tidak populis? Harus berani donk. Masak kalah sama Sutiyoso dan Suharto.

Sementara untuk BLBI yg ternyata banyak dikemplang tikus-tikus kerah putih, pemerintah bersedia mengalokasikan ratusan triliun rupiah. Ataukah pemerintah terbelenggu kepentingan pemilik modal? Hanya Allah yang tahu. Wallahu alam bisawab.

Tulisan ini atas dorongan teman saya Mas Tatok Kurnianto untuk terus menulis...thanxs ya mas. yang penting nulis dulu.

Monday, May 3, 2010

Mutasi DNA Powerhouse-Pertamina


Sebelum bercerita tentang buku ini, rasanya perlu diketahui dulu mahluk apakah powerhouse itu. Powerhouse adalah perusahaan-perusahaan yang mempunyai ukuran sangat besar, dilihat dari asset, jumlah karyawan, memberikan kontribusi yang besar dalam pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan inovasi. Contoh-contoh dari powerhouse antaralain Saudi Aramco, Pertamina, Exxon, wallmart, sumitomo, Mithal, McDonald, Microsoft, Boeing, Airbus, dan Dupont. Powerhouse dapat dibedakan berdasarkan dari resources-based, people-based, dan knowledge-based.

Membaca buku ini, terasa enak dan tidak capek, karena buku ini bertutur dengan bahasa pop, sesuai pengarangnya yang mantan wartawan, Prof. Rhenald Kashali, Phd. Buku ini diterbitkan tahun 2008 dan saat ini telah ada satu buku lagi karya Rhenald Kashali-Myelin. Mudah2an nanti bisa direview juga disini.

Secara panjang lebar, buku ini mengulas tentang PT. PERTAMINA (Persero), yakni sebuah powerhouse milik Negara Indonesia (100% sahamnya dikuasai oleh Negara). Ulasan mencakup berbagai sudut, mulai dari pasang-surut PT. Pertamina tahun ke tahun, proses perubahan yang sedang dijalankan oleh Direksi yang dipimpin Arie Sumarno (diganti feb 2009), tantangan yang dihadapi oleh direksi BUMN ini terkait dengan program transformasi yang dilakukan, misalnya: sumber daya manusia Pertamina, culture perusahaan, campur tangan politik.

Yang menarik dari buku ini adalah kekayaan contoh-contoh dari perusahaan lain, terutama perusahaan powerhouse dari luar negeri dan sedikit dari perusahaan Indonesia. Sebagai contoh adalah ulasan tentang Aramco (sebuah perusahaan minyak Arab Saudi). Aramco merupakan perusahaan minyak terbesar didunia dengan menguasai cadangan minyak terbesar, produksi hariannya mencapai 11 juta barrel/hari (sebagai perbandingan produksi Indonesia hanya 1,03 juta barrel/hari). Dengan ukuran produksi yang sangat besar tersebut, Aramco menjadi motor penggerak ekonomi Arab Saudi, dari negara yang miskin menjadi negara yang berkemakmuran.

Contoh lain adalah bagaimana kejatuhan sebuah perusahaan BUMN minyak di India (ONGC-oil and natural gas corporation) akibat keserakahan dari politik untuk masuk dan menguasai perusahaan migas yang menghasilkan keuntungan yang besar.

Rhenald Kashali dalam buku ini menunjukkan cara melakukan perubahan dari kondisi yang buruk menjadi lebih baik. Prasyarat dari perubahan dan apa yang dilakukan selama perubahan diulas panjang lebar didalam buku ini. Sebagai contoh adalah prasyarat perubahan yang harus dimulai dari komitmen manajemen puncak untuk melakukan perubahan. Manajemen puncak yang harus memiliki VISI (visioner, integrator, socialite, dan illusionist), individu alpha, pengelolaan karyawan, dll.

Buku ini wajib dibaca bagi pemimpin, calon pemimpin, dan anggota organisasi yang menginginkan perusahaannya menjadi lebih maju, dan bercita-cita menjadi sebuah powerhouse kelas dunia. Bagi yang sudah jadi pimpinan, gunakan kekuasaan yang ada ditangan ada untuk berbuat kebaikan, membawa organisasi yang anda pimpin menjadi maju dan berkembang. Bagi yang belum jadi pimpinan, pemimpin tidak lahir dalam proses yang instant, semuanya melalui proses. Tempalah anda menjadi pemimpin yang ideal.

Wednesday, March 31, 2010

Depok Baru to Gatot Subroto


Tulisan ini semoga terbaca oleh pegawai dan pejabat Departemen Perhubungan, dinas perhubungan, atau siapapun yang mempunyai tanggung jawab mengatur lalulintas di negeri ini, khusunya jakarta dan sekitarnya.
Mungkin ini adalah kejengkelan saya terhadap manajemen transportasi di megapolitan Jabodetabek. Rumah saya di Depok, jarak ke kantor saya di daerah Gatot Subroto adalah 21 Km. Namun jarak yang relatif dekat ini (he..he..dibanding yang 30km keatas kan relatif deket...) harus ditempuh dalam waktu yang lama dan bervariasi, tergantung kondisi lalu lintas. Bisa 45 menit, bisa 1 jam, bisa 1,5 jam, tapi bisa juga 3 jam. Semua tergantung kondisi lalu lintas, melintas jam berapa, hujan apa enggak, ada kejadian aneh apa enggak (mobil mogok, etc, %*#&*).
Dari berbagai mode transportasi, saya sudah mencoba 3 mode transportasi: Sepeda Motor, Mobil, dan terakhir Kereta Rel Listrik (KRL). Semua ada plus minusnya...

Moda Sepeda Motor
Kekantor rata-rata dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam, berangkat jam 06.30 sampai kantor jam 07.50. dengan jalur Depok, Jagakarsa, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Pancoran, Kuningan dan Gatot Subroto. Rute paling parah adalah sehabis underpass pasar minggu sampai pancoran. Walaupun anda naik motor, niscaya anda gak bisa srobot sana srobot sini, "tanya kenapa?" karena saking banyaknya volume kendaraan yang gak sebanding dengan lebar ruas jalan.
Plusnya adalah plus asap mobil, motor, solar dan debu, serta pegel2 di kaki dan badan. Kalau Hujan gak Kepanasan, kalau panas gak kehujanan. Minusnya adalah minus bensin alias mode irit. Beli bensin Rp. 15.000 bisa untuk bolak-balik 3 hari, murah tho. mungkin ini salah satu alasan meledaknya jumlah motor di Jakarta.

Moda Mobil
Moda ini digunakan kalau terpaksa, misal cuaca pas berangkat lagi hujan deras, ada keperluan misal meeting diluar, mau main futsal habis jam kantor, or ada acara lain. Harus berangkat pagi-pagi, jam 05.30, dengan rute yang sama akan sampai kantor jam 06.30, cepetkan cuma 1 jam...tapi pagi-pagi buta he..he... kalau berangkat jam 06.00 atau jam 06.30 sampai kantor bisa jam 09.00...what a wonderful Jakarta. Plusnya adalah kaki kiri pegel-pegel main kopling (mode manual belum matic....laki-laki sejati, oper gigi).

Moda Kereta Rel Listrik Sebenernya ini adalah moda yang paling feasible, cepat, awalnya nyaman, relatif murah. Untuk tiket KRL Express Depok-Dukuh Atas/Sudirman seharga Rp. 9.000. Cepat: karena dari Depok-Dukuh Atas Sudirman cuman dibutuhkan waktu paling lama 30 menit (dengan catatan everything is OK). Maksudnya OKe adalah tidak ada kereta mogok, tidak terjadi kerusakan teknis kereta, tidak ada kereta yang anjlok, tidak ada...tidak ada...dst.

Berangkat jam 06.40 sampai Dukuh atas jam 07.10. Kereta trip ini awalnya tidak penuh-penuh banget, tapi sekarang (saat ditulis akhir maret 2010), hm..hm..kereta ini gak nyaman lagi. terlalu banyak orang yang mau naik kereta ini. Sementara gerbong malah cuman 6 gerbong dari yang dulunya 8 gerbong. Akibatnya penuh, berdesak-desakkan, O2 menjadi rebutan...(masih dingin sih). So, dari Depok ke Dukuh Atas pasti berdiri, yang pake pada bawa kursi sendiri juga gak bisa pake...tereta ini terlalu penuh. Dari dukuh atas disambung pake Metromini 604 eh... 640. Posisi paling enak adalah duduk di kursi panjang paling belakang. lumayan buat ngobatin desak-desak 30 menit dikereta. fiuh...h...h.h.. Tapi moda paling nyama masih tetap KRL compare the 2 others. Semoga KRL menjadi lebih baik, lebih mengerti kemauan konsumen, lebih tepat waktu, lebih..lebih yang lain...
tut..tut..jeg-jeg..jeg-jeg....

Monday, March 29, 2010

Google Scholar

Google memang mesin pencari yang hebat. Program ini melakukan kustomisasi pelanggannya. Mulai dari mencari alamat situs, gambar, buku, terjemahan, dll. Untuk orang yang suka membaca, mencari artikel ilmiah, referensi, dari skripsi, thesis, disertasi, buku-buku dari berbagai bidang dapat menggunakan google scholar. Tulis aja http://scholar.google.com atau http://scholar.google.co.id.

Seperti pada pencarian google biasa, langkahnya:
1. masuk ke http://scholar.google.com atau http://scholar.google.co.id.
2. Setelah masuk, tulis nama pengarang atau tokoh yang akan kita cari. Misal Peter drucker. Didapat hasil 45.900 (dilakukan pada 29 Maret 2010 jam 11.19 WIB).

3.
Pilih artikel yang dibutuhkan.

Wednesday, March 24, 2010

Strategic Job Readiness



Kontribusi SDM melalui CBHRM untuk menjadi strategic partner

Berdasarkan penelitian, hanya 10% dari strategi yang dirancang dengan benar akan dieksekusi dengan baik dan berhasil mengangkat kinerja perusahaan. Apalagi kalau strateginya dirancang dengan salah, tambah parahlah perusahaan itu. If you fail to plan, than you plan to fail. Eksekusi strategi menjadi sebuah masalah pelik yang sedang mengemuka. Banyak perusahaan berusaha mengatasi hal ini. Kaplan dan Norton (Pengarang metode Balanced Scorecard) menganjurkan perusahaan menjalankan 5 prinsip dan dikenal dengan Strategy Performance Focused Organization (SPFO). Secara sederhana 5 prinsip tersebut diterjemahkan dengan adanya:

· Kepemimpinan yang berwibawa (tahu kemana organisasi dibawa dan mampu mempengaruhi orang2 didalam organisasi untuk mencapai tujuan/sasaran organisasi);

· Penerjemahan strategy menjadi hal-hal operasional, yakni: misi, visi, penetapan peta strategi, sasaran2, target, ukuran kinerja

· Membuat kesesuaian antara tujuan besar perusahaan dengan unit-unit kerja, proses bisnis, vertical alignment dan horizontal alignment.

· Memotivasi individu-individu didalam organisasi untuk mencapai strategi perusahaan. Hal ini dilakukan dengan melakukan komunikasi dan training terhadap karyawan disemua level, memberikan reward disesuaikan dengan pencapaian sasaran organisasi.

· Membuat strategy sebagai sebuah proses yang berkelanjutan. Dilakukan dengan pertemuan rutin membahas pencapaian sasaran perusahaan (bulanan, triwulanan dan tahunan), melakukan tindakan perbaikan untuk mencapai sasaran organisasi.

Dari ke-lima prinsip diatas, pada bagian mana SDM dapat berkontribusi? Bagaimana SDM dapat berfungsi menjadi sebuah unit yang tidak hanya berfungsi administratif, mengurusi gaji, jadwal cuti, pembayaran uang makan, masalah absen, kenaikan golongan, grade? Namun menjadi sebuah unit yang berfungsi sebagai strategic partner/mitra strategis mencapai tujuan-tujuan strategis perusahaan.

Salah satu aspek yang dapat digunakan adalah dengan menerapkan strategic job readiness. Konsep ini dapat diartikan sebagai kesiapan dari jabatan-jabatan kunci untuk melaksanakan strategi perusahaan. Perusahaan yang mempunyai nilai strategic job readiness rendah mempunyai kemungkinan besar akan gagal dalam mengeksekusi strategi. Untuk dapat menentukan berapa nilai strategic job readiness, kita memerlukan perusahaan yang telah menerapkan Balanced scorecard dan pengelolaan SDM berbasis kompetensi/CBHRM. Disinilah peran CBHRM yang akan memudahkan kita menerapkan berbagai strategi penting. Intinya adalah membuat ukuran yang jelas tentang perilaku yang dibutuhkan.

Seperti diketahui, BSC memetakan sasaran2 penting yang harus dicapai perusahaan. Untuk mencapai sasaran-sasaran penting ini perusahaan memerlukan proses-proses yang dapat mendukung tercapainya sasaran-sasaran tadi. Sebagai contoh perusahaan diumpamakan mempunyai sasaran: meningkatkan kualitas data customer. Berkualitas artinya data customer valid, sesuai dengan kenyataan, baik data upah, data demografi tenaga kerja (nama ibu, tanggal lahir, dan keterangan lainnya). Gambar berikut memberikan ilustrasi penghitungan nilai strategic job readiness. Sekali lagi, ini hanya sebuah ilustrasi dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.


Gambar disamping dimulai dari proses strategis yang dibutuhkan Jamsostek, yakni meningkatkan kualitas data kepesertaan.

Job title yang berperan penting untuk mendapatkan kualitas data kepesertaan adalah Account Executive.

Hal itu dapat dilakukan oleh account executive-account executive yang mempunyai kompetensi. Kompeten dalam hal (hal ini terlihat dari kamus kompetensi-job profile):

· Pengetahuan: mempunyai customer knowledge dan marketing communication

· Ketrampilan: mempunyai relationship management skills dan database management skills

· Sikap: Customer Partnership dan Achievement Orientation

Berdasarkan analisa kebutuhan, ternyata dibutuhkan 450 orang Account executive yang mempunyai profile kompetensi diatas. Hasil dari assesmen terhadap 400 orang AE ternyata hanya terdapat 150 orang yang mempunyai kemampuan kompetensi diatas. Sehingga dapat dikatakan bahwa strategic job readiness untuk mengeksekusi strategi peningkatan kualitas data kepesertaan hanya 33,34%. Jika saja factor kesuksesan strategi “peningkatan kualitas data kepesertaan” itu 100% diasumsikan berasal dari factor SDM, maka dapat diprediksikan bahwa strategi ini hanya akan berhasil dieksekusi sebesar 33,34% saja.

Dengan keadaan diatas, berarti perusahaan harus melakukan training/pengembangan karyawan terhadap 300 orang AEO untuk dapat melakukan perbaikan kualitas data kepesertaan.

Dari ilustrasi diatas, Nampak bahwa perusahaan dapat menyelaraskan dua system yakni Balanced Scorecard (BSC) dan Competency Based Human Resource Management (CBHRM). BSC berkaitan dengan pilihan-pilihan strategi, sementara CBHRM mendorong dari sisi eksekusi strategi dalam bidang SDM, mulai dari identifikasi kebutuhan pengembangan karyawan, posisi kesiapan SDM untuk mengeksekusi sebuah strategi.

Referensi:

- Kaplan, Robert S, and David P. Norton, Strategy Maps: Converting Intangible Assets Into Tangible Outcomes, Boston-Harvard Business School Publishing, 2004.

- Model dan Kamus Kompetensi PT. Jamsostek (Persero), 2008.

Tuesday, January 12, 2010

Ignore apa Confirm?


Pengguna facebook pasti udah sering banget mendapat pertanyaan seperti judul diatas. Kalau confirm ada manfaatnya gak ya? kalau gak gabung apakah saya akan ketinggalan informasi? Kita pasti mencari sweet spot-yakni komunitas yang memberikan manfaat optimum.

Setidaknya ada 3 kriteria yang dapat kita gunakan untuk menentukan gabung tidaknya kita pada sebuah komunitas: relevance; active level dan number of community network.

Relevance terkait dengan relevansi atau kesamaan interest/kepentingan atau values/nilai. Orang yang mempunyai kepentingan atau nilai-nilai yang sama cenderung untuk memasuki sebuah komunitas yang sama. Coba ketik bike to work (dalam facebook), maka akan muncul 16 komunitas bike to work (dilakukan pada 12 januari 2010). Masing-masing mempunyai anggota yang bervariasi jumlahnya. Komunitas ini mempunyai values yang sama yakni kesehatan lewat bersepeda, mengurangi emisi karbon, juga ada yang karena alasan ekonomis (pasti sedikit sih..). Orang yang tidak menyukai sepeda, emisi karbon cenderung enggan untuk bergabung dengan komunitas bike to work.

Active level terkait dengan seberapa besar tingkat keaktifan sebuah komunitas. Apakah sebuah komunitas hanya berisi list anggota tanpa aktivitas apapun. Tanpa ada diskusi, sharing pengalaman tentang interest yang sama, dst. Kalau cuman sekedar daftar nama, ngapain kita bergabung. Saya pernah mengikuti Honda Jazz Cyber Club, member komunitas ini cukup aktif, tiap hari ada yang memposting sesuatu, tanya bengkel honda, cara mengubah setting mobil, tempat ngecat mobil, etc.

Number of community Network terkait dengan jumlah jaringan antar komunitas yang dapat dibangun atau potensial dibangun. Kita tentu pingin menambah jaringan untuk menambah manfaat dan pertemanan.

Kalau gak ada yang sesuai dengan 3 kriteria-kriteria tersebut diatas, trus mau ikut komunitas apa donks??? Mungkin saatnya anda menjadi administrator dari sebuah komunitas. Bukankah Tuhan memerintahkan kita menjadi orang yang bermanfaat buah orang lain. So, it's time and your turn.

Selamat menjadi penggerak komunitas, esplore your ability...



Wednesday, January 6, 2010

Takdir


Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman lama yang menelpon tentang hidupnya. Perbincangan mengalir tentang mengapa dalam usianya sekarang belum dikarunia pasangan, ketika lahir kenapa dilahirkan dengan handycap (baca: kekurangsempurnaan fisik), apakah tuhan tidak sayang?

Topik takdir selalu menjadikan hangat kalau dijadikan sebagai topik diskusi. "Ke-hangat-an" ini muncul karena selalu saja ada beberapa kelompok yang berseberangan pendapatnya tentang takdir. Ada yang berpendapat bahwa takdir seseorang sudah ditentukan oleh Allah swt, manusia tinggal menjalaninya saja. Hal ini merujuk pada beberapa firman Allah, QS. An'Am ayat 59:

59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).(QS.6:59)

Sementara kelompok yang lain berpendapat bahwa takdir adalah sesuatu yang masih bisa berubah, tergantung kepada usaha kita. Hal ini juga dengan sandaran Al Quran Ar Ra'd ayat 11:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Jadi seharusnya bagaimana nih kita menyimpulkan dua ayat al quran yang "kelihatannya" bertentangan ini? Iktiar untuk menjawab pertanyaan ini saya temukan dalam bukunya Agus Mustofa "Mengubah Takdir-seri 7 diskusi tasawuf modern". Walaupun kebenaran 100% ada di Allah namun kita wajib mencarinya.

Inti pemikiran dari Agus Mustofa adalah Takdir dipengaruhi oleh usaha dan kehendak Allah. Manusia diperintahkan untuk berusaha seoptimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Sedangkan Allah telah menciptakan hukum-hukum-Nya yang kita sebut sunatullah. Hasilnya yang menentukan adalah Allah, tergantung kepada usaha kita. Disamping itu ada juga faktor lain yang berpengaruh (hal ini tentu juga di atur oleh Allah). Lihat tulisan saya dalam review buku outlier (kaitannya jelas sekali).

Perumpamaannya adalah seperti sebuah kalkulator, hasil yang nampak di layar kalkulator tergantung kepada tombol apa yang kita pencet, penjumlahan, perkalian atau yang lain. Akan tetapi ketentuan-ketentuan yang mengaturnya sudah di program oleh pembuat kalkulator. Dalam hal ini adalah yang maha pencipta ALLAH Swt.

Saya cenderung setuju sama pemikiran Agus Mustofa ini, tentunya manusia diciptakan bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Kita punya pilihan, diberikan kebebasan sehingga kita diberikan potensi yang sedemikian besar (Surat At tiin: Sesungguhnya kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk). Konsekuensinya kita mempunyai tanggungjawab atas semua perbuatan yang kita lakukan.

Wallahu'alam bisawab.