
Friday, October 29, 2010
Pemerintah maunya apa?

Monday, May 3, 2010
Mutasi DNA Powerhouse-Pertamina
Sebelum bercerita tentang buku ini, rasanya perlu diketahui dulu mahluk apakah powerhouse itu. Powerhouse adalah perusahaan-perusahaan yang mempunyai ukuran sangat besar, dilihat dari asset, jumlah karyawan, memberikan kontribusi yang besar dalam pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan inovasi. Contoh-contoh dari powerhouse antaralain Saudi Aramco, Pertamina, Exxon, wallmart, sumitomo, Mithal, McDonald, Microsoft, Boeing, Airbus, dan Dupont. Powerhouse dapat dibedakan berdasarkan dari resources-based, people-based, dan knowledge-based.
Membaca buku ini, terasa enak dan tidak capek, karena buku ini bertutur dengan bahasa pop, sesuai pengarangnya yang mantan wartawan, Prof. Rhenald Kashali, Phd. Buku ini diterbitkan tahun 2008 dan saat ini telah ada satu buku lagi karya Rhenald Kashali-Myelin. Mudah2an nanti bisa direview juga disini.
Secara panjang lebar, buku ini mengulas tentang PT. PERTAMINA (Persero), yakni sebuah powerhouse milik Negara Indonesia (100% sahamnya dikuasai oleh Negara). Ulasan mencakup berbagai sudut, mulai dari pasang-surut PT. Pertamina tahun ke tahun, proses perubahan yang sedang dijalankan oleh Direksi yang dipimpin Arie Sumarno (diganti feb 2009), tantangan yang dihadapi oleh direksi BUMN ini terkait dengan program transformasi yang dilakukan, misalnya: sumber daya manusia Pertamina, culture perusahaan, campur tangan politik.
Yang menarik dari buku ini adalah kekayaan contoh-contoh dari perusahaan lain, terutama perusahaan powerhouse dari luar negeri dan sedikit dari perusahaan Indonesia. Sebagai contoh adalah ulasan tentang Aramco (sebuah perusahaan minyak Arab Saudi). Aramco merupakan perusahaan minyak terbesar didunia dengan menguasai cadangan minyak terbesar, produksi hariannya mencapai 11 juta barrel/hari (sebagai perbandingan produksi Indonesia hanya 1,03 juta barrel/hari). Dengan ukuran produksi yang sangat besar tersebut, Aramco menjadi motor penggerak ekonomi Arab Saudi, dari negara yang miskin menjadi negara yang berkemakmuran.
Contoh lain adalah bagaimana kejatuhan sebuah perusahaan BUMN minyak di India (ONGC-oil and natural gas corporation) akibat keserakahan dari politik untuk masuk dan menguasai perusahaan migas yang menghasilkan keuntungan yang besar.
Rhenald Kashali dalam buku ini menunjukkan cara melakukan perubahan dari kondisi yang buruk menjadi lebih baik. Prasyarat dari perubahan dan apa yang dilakukan selama perubahan diulas panjang lebar didalam buku ini. Sebagai contoh adalah prasyarat perubahan yang harus dimulai dari komitmen manajemen puncak untuk melakukan perubahan. Manajemen puncak yang harus memiliki VISI (visioner, integrator, socialite, dan illusionist), individu alpha, pengelolaan karyawan, dll.
Buku ini wajib dibaca bagi pemimpin, calon pemimpin, dan anggota organisasi yang menginginkan perusahaannya menjadi lebih maju, dan bercita-cita menjadi sebuah powerhouse kelas dunia. Bagi yang sudah jadi pimpinan, gunakan kekuasaan yang ada ditangan ada untuk berbuat kebaikan, membawa organisasi yang anda pimpin menjadi maju dan berkembang. Bagi yang belum jadi pimpinan, pemimpin tidak lahir dalam proses yang instant, semuanya melalui proses. Tempalah anda menjadi pemimpin yang ideal.Wednesday, March 31, 2010
Depok Baru to Gatot Subroto

Moda Mobil
Moda Kereta Rel Listrik Sebenernya ini adalah moda yang paling feasible, cepat, awalnya nyaman, relatif murah. Untuk tiket KRL Express Depok-Dukuh Atas/Sudirman seharga Rp. 9.000. Cepat: karena dari Depok-Dukuh Atas Sudirman cuman dibutuhkan waktu paling lama 30 menit (dengan catatan everything is OK). Maksudnya OKe adalah tidak ada kereta mogok, tidak terjadi kerusakan teknis kereta, tidak ada kereta yang anjlok, tidak ada...tidak ada...dst.
Berangkat jam 06.40 sampai Dukuh atas jam 07.10. Kereta trip ini awalnya tidak penuh-penuh banget, tapi sekarang (saat ditulis akhir maret 2010), hm..hm..kereta ini gak nyaman lagi. terlalu banyak orang yang mau naik kereta ini. Sementara gerbong malah cuman 6 gerbong dari yang dulunya 8 gerbong. Akibatnya penuh, berdesak-desakkan, O2 menjadi rebutan...(masih dingin sih). So, dari Depok ke Dukuh Atas pasti berdiri, yang pake pada bawa kursi sendiri juga gak bisa pake...tereta ini terlalu penuh. Dari dukuh atas disambung pake Metromini 604 eh... 640. Posisi paling enak adalah duduk di kursi panjang paling belakang. lumayan buat ngobatin desak-desak 30 menit dikereta. fiuh...h...h.h.. Tapi moda paling nyama masih tetap KRL compare the 2 others. Semoga KRL menjadi lebih baik, lebih mengerti kemauan konsumen, lebih tepat waktu, lebih..lebih yang lain...tut..tut..jeg-jeg..jeg-jeg....
Monday, March 29, 2010
Google Scholar
Seperti pada pencarian google biasa, langkahnya:
1. masuk ke http://scholar.google.com atau http://scholar.google.co.id.
2. Setelah masuk, tulis nama pengarang atau tokoh yang akan kita cari. Misal Peter drucker. Didapat hasil 45.900 (dilakukan pada 29 Maret 2010 jam 11.19 WIB).
Wednesday, March 24, 2010
Strategic Job Readiness
Kontribusi SDM melalui CBHRM untuk menjadi strategic partner
Berdasarkan penelitian, hanya 10% dari strategi yang dirancang dengan benar akan dieksekusi dengan baik dan berhasil mengangkat kinerja perusahaan. Apalagi kalau strateginya dirancang dengan salah, tambah parahlah perusahaan itu. If you fail to plan, than you plan to fail. Eksekusi strategi menjadi sebuah masalah pelik yang sedang mengemuka. Banyak perusahaan berusaha mengatasi hal ini. Kaplan dan Norton (Pengarang metode Balanced Scorecard) menganjurkan perusahaan menjalankan 5 prinsip dan dikenal dengan Strategy Performance Focused Organization (SPFO). Secara sederhana 5 prinsip tersebut diterjemahkan dengan adanya:
· Kepemimpinan yang berwibawa (tahu kemana organisasi dibawa dan mampu mempengaruhi orang2 didalam organisasi untuk mencapai tujuan/sasaran organisasi);
· Penerjemahan strategy menjadi hal-hal operasional, yakni: misi, visi, penetapan peta strategi, sasaran2, target, ukuran kinerja
· Membuat kesesuaian antara tujuan besar perusahaan dengan unit-unit kerja, proses bisnis, vertical alignment dan horizontal alignment.
· Memotivasi individu-individu didalam organisasi untuk mencapai strategi perusahaan. Hal ini dilakukan dengan melakukan komunikasi dan training terhadap karyawan disemua level, memberikan reward disesuaikan dengan pencapaian sasaran organisasi.
· Membuat strategy sebagai sebuah proses yang berkelanjutan. Dilakukan dengan pertemuan rutin membahas pencapaian sasaran perusahaan (bulanan, triwulanan dan tahunan), melakukan tindakan perbaikan untuk mencapai sasaran organisasi.
Dari ke-lima prinsip diatas, pada bagian mana SDM dapat berkontribusi? Bagaimana SDM dapat berfungsi menjadi sebuah unit yang tidak hanya berfungsi administratif, mengurusi gaji, jadwal cuti, pembayaran uang makan, masalah absen, kenaikan golongan, grade? Namun menjadi sebuah unit yang berfungsi sebagai strategic partner/mitra strategis mencapai tujuan-tujuan strategis perusahaan.
Salah satu aspek yang dapat digunakan adalah dengan menerapkan strategic job readiness. Konsep ini dapat diartikan sebagai kesiapan dari jabatan-jabatan kunci untuk melaksanakan strategi perusahaan. Perusahaan yang mempunyai nilai strategic job readiness rendah mempunyai kemungkinan besar akan gagal dalam mengeksekusi strategi. Untuk dapat menentukan berapa nilai strategic job readiness, kita memerlukan perusahaan yang telah menerapkan Balanced scorecard dan pengelolaan SDM berbasis kompetensi/CBHRM. Disinilah peran CBHRM yang akan memudahkan kita menerapkan berbagai strategi penting. Intinya adalah membuat ukuran yang jelas tentang perilaku yang dibutuhkan.
Seperti diketahui, BSC memetakan sasaran2 penting yang harus dicapai perusahaan. Untuk mencapai sasaran-sasaran penting ini perusahaan memerlukan proses-proses yang dapat mendukung tercapainya sasaran-sasaran tadi. Sebagai contoh perusahaan diumpamakan mempunyai sasaran: meningkatkan kualitas data customer. Berkualitas artinya data customer valid, sesuai dengan kenyataan, baik data upah, data demografi tenaga kerja (nama ibu, tanggal lahir, dan keterangan lainnya). Gambar berikut memberikan ilustrasi penghitungan nilai strategic job readiness. Sekali lagi, ini hanya sebuah ilustrasi dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Gambar disamping dimulai dari proses strategis yang dibutuhkan Jamsostek, yakni meningkatkan kualitas data kepesertaan.
Job title yang berperan penting untuk mendapatkan kualitas data kepesertaan adalah Account Executive.
Hal itu dapat dilakukan oleh account executive-account executive yang mempunyai kompetensi. Kompeten dalam hal (hal ini terlihat dari kamus kompetensi-job profile):
· Pengetahuan: mempunyai customer knowledge dan marketing communication
· Ketrampilan: mempunyai relationship management skills dan database management skills
· Sikap: Customer Partnership dan Achievement Orientation
Berdasarkan analisa kebutuhan, ternyata dibutuhkan 450 orang Account executive yang mempunyai profile kompetensi diatas. Hasil dari assesmen terhadap 400 orang AE ternyata hanya terdapat 150 orang yang mempunyai kemampuan kompetensi diatas. Sehingga dapat dikatakan bahwa strategic job readiness untuk mengeksekusi strategi peningkatan kualitas data kepesertaan hanya 33,34%. Jika saja factor kesuksesan strategi “peningkatan kualitas data kepesertaan” itu 100% diasumsikan berasal dari factor SDM, maka dapat diprediksikan bahwa strategi ini hanya akan berhasil dieksekusi sebesar 33,34% saja.
Dengan keadaan diatas, berarti perusahaan harus melakukan training/pengembangan karyawan terhadap 300 orang AEO untuk dapat melakukan perbaikan kualitas data kepesertaan.
Dari ilustrasi diatas, Nampak bahwa perusahaan dapat menyelaraskan dua system yakni Balanced Scorecard (BSC) dan Competency Based Human Resource Management (CBHRM). BSC berkaitan dengan pilihan-pilihan strategi, sementara CBHRM mendorong dari sisi eksekusi strategi dalam bidang SDM, mulai dari identifikasi kebutuhan pengembangan karyawan, posisi kesiapan SDM untuk mengeksekusi sebuah strategi.
Referensi:
- Kaplan, Robert S, and David P. Norton, Strategy Maps: Converting Intangible Assets Into Tangible Outcomes, Boston-Harvard Business School Publishing, 2004.
- Model dan Kamus Kompetensi PT. Jamsostek (Persero), 2008.
Tuesday, January 12, 2010
Ignore apa Confirm?
Setidaknya ada 3 kriteria yang dapat kita gunakan untuk menentukan gabung tidaknya kita pada sebuah komunitas: relevance; active level dan number of community network.
Relevance terkait dengan relevansi atau kesamaan interest/kepentingan atau values/nilai. Orang yang mempunyai kepentingan atau nilai-nilai yang sama cenderung untuk memasuki sebuah komunitas yang sama. Coba ketik bike to work (dalam facebook), maka akan muncul 16 komunitas bike to work (dilakukan pada 12 januari 2010). Masing-masing mempunyai anggota yang bervariasi jumlahnya. Komunitas ini mempunyai values yang sama yakni kesehatan lewat bersepeda, mengurangi emisi karbon, juga ada yang karena alasan ekonomis (pasti sedikit sih..). Orang yang tidak menyukai sepeda, emisi karbon cenderung enggan untuk bergabung dengan komunitas bike to work.
Active level terkait dengan seberapa besar tingkat keaktifan sebuah komunitas. Apakah sebuah komunitas hanya berisi list anggota tanpa aktivitas apapun. Tanpa ada diskusi, sharing pengalaman tentang interest yang sama, dst. Kalau cuman sekedar daftar nama, ngapain kita bergabung. Saya pernah mengikuti Honda Jazz Cyber Club, member komunitas ini cukup aktif, tiap hari ada yang memposting sesuatu, tanya bengkel honda, cara mengubah setting mobil, tempat ngecat mobil, etc.
Number of community Network terkait dengan jumlah jaringan antar komunitas yang dapat dibangun atau potensial dibangun. Kita tentu pingin menambah jaringan untuk menambah manfaat dan pertemanan.
Kalau gak ada yang sesuai dengan 3 kriteria-kriteria tersebut diatas, trus mau ikut komunitas apa donks??? Mungkin saatnya anda menjadi administrator dari sebuah komunitas. Bukankah Tuhan memerintahkan kita menjadi orang yang bermanfaat buah orang lain. So, it's time and your turn.
Selamat menjadi penggerak komunitas, esplore your ability...
Wednesday, January 6, 2010
Takdir

Sementara kelompok yang lain berpendapat bahwa takdir adalah sesuatu yang masih bisa berubah, tergantung kepada usaha kita. Hal ini juga dengan sandaran Al Quran Ar Ra'd ayat 11:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Jadi seharusnya bagaimana nih kita menyimpulkan dua ayat al quran yang "kelihatannya" bertentangan ini? Iktiar untuk menjawab pertanyaan ini saya temukan dalam bukunya Agus Mustofa "Mengubah Takdir-seri 7 diskusi tasawuf modern". Walaupun kebenaran 100% ada di Allah namun kita wajib mencarinya.
Inti pemikiran dari Agus Mustofa adalah Takdir dipengaruhi oleh usaha dan kehendak Allah. Manusia diperintahkan untuk berusaha seoptimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Sedangkan Allah telah menciptakan hukum-hukum-Nya yang kita sebut sunatullah. Hasilnya yang menentukan adalah Allah, tergantung kepada usaha kita. Disamping itu ada juga faktor lain yang berpengaruh (hal ini tentu juga di atur oleh Allah). Lihat tulisan saya dalam review buku outlier (kaitannya jelas sekali).
Perumpamaannya adalah seperti sebuah kalkulator, hasil yang nampak di layar kalkulator tergantung kepada tombol apa yang kita pencet, penjumlahan, perkalian atau yang lain. Akan tetapi ketentuan-ketentuan yang mengaturnya sudah di program oleh pembuat kalkulator. Dalam hal ini adalah yang maha pencipta ALLAH Swt.
Wallahu'alam bisawab.